
Ngaliyan - Suatu langkah baik dari mahasiswa Fakultas Syari’ah, mereka mendirikan kantin jujur, kantin ini dikelola oleh pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Mu’amalah dan Ekonomi Islam. Cara transaksinya yang unik tidak ada penjualnya, yaitu dengan cara mengambil makanan yang dibutuhkan dan menaruh uangnya di tempat yang telah disediakan sekaligus kembaliannya jika ada. Cara transaksi-nya yang mengandalkan kejujuran menyebabkan kantin ini dinamakan kantin jujur.
Kantin jujur dibuka pada Rabu (04/03/09). Awalnya kantin jujur hanya menjual permen dan air mineral saja. Akan tetapi, setelah satu bulan berjalan, dagangan kantin jujur bertambah menjadi 6 macam yaitu air mineral, permen, nasi bungkus, gorengan, dan macam-macam snack, tetapi untuk nasi dan gorengan hanya bisa ditemui di samping kantor Fakultas lama. Adapun mengenai harga memang sangat terjangkau.
Kantin jujur dapat dijumpai hanya tiga Hari dalam satu minggu yaitu hari senin rabu dan kamis, kantin jujur ditempatkan pada tiga tempat yaitu di depan perpus-takaan Institut, didepan kantor Fakultas lama dan didepan Gedung M. Pengelolaan Kantin jujur perhari diurusi oleh 4 orang yang telah diberi tugas oleh HMJ.
Elly selaku penggagas Kantin Jujur ketika ditemui kru Ngalian Metro di kantor HMJ Muamalah menyatakan, kantin jujur merupakan Program HMJ dari divisi pertama, dan itu juga merupakan program HMJ yang paling up to date setelah Raker, yang mempunyai konsep sangat sederhana, dan hanya bermodal Rp 50 000 dari HMJ. saking sederhananya rencana sebelumnya Kantin Jujur tidak ada launching.
Tujuan didirikannya kantin jujur adalah dari pihak HMJ ingin mengetahui seberapa kejujuran para Mahasiswa khususnya di Fakultas Syari’ah dan umumnya di kampus IAIN sendiri, karena Mahasiswa yang berbasis Islam biasanya lalai dengan nilai-nilai penghayatan dalam Islam itu sendiri. Selain itu didirikannya kantin jujur itu karena HMJ Mu’amalah dan Ekonomi Islam yang berbasis ekonomi memang sudah seharusnya punya ajang latihan berbisnis sendiri, dan rencana jangka panjang Kantin Jujur akan dibuatkan warung yang menetap.
Andi Mahasiswa Fakultas Syari’ah jurusan Siyasah Jinayah ketika ditanya tentang kantin jujur, ia menjawab “kantin jujur memang sangat membantu Mahasiswa, misalnya ada Mahasiswa yang butuh minum langsung bisa memanfaat-kan kantin jujur terdekat, di samping itu harganya pun sangat terjangkau dalam artian tidak berbeda dengan kantin yang lain”.
Selain itu hal ini bisa membuat image mahasiswa, khususnya di Fakultas Syari’ah, karena dengan adanya kantin jujur berarti memang dari pihak pengelola sudah tidak ragu bahwa mahasiswa di IAIN ini memang dapat dipercaya kejujurannya. (Syafi’i/NM)
Selengkapnya...
Kamis, 23 April 2009
[Edisi 4] Kantin Penguji Kejujuran
[Edisi 3] Pojok Amerika Yang Terpojokan

American Corner, biasanya mahasiswa sering menyebutnya dengan Amcor adalah salah satu fasilitas yang disediakan untuk umum, terutama bagi mahasiswa dalam menunjang keaktifan perkuliahannya.
American Corner (Amcor) merupakan bentuk kerja sama dalam pendidikan antara Perguruan Tinggi Indonesia dengan Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika, di Indonesia hanya terdapat 11 Amcor, antara lainnya di Jawa Tengah yang hanya terdapat di IAIN Walisongo Semarang.
Amcor yang dalam bahasa berarti Pojok Amerika, merupakan pusat informasi tentang semua yang ada di dunia luar, khususnya Amerika. Amcor di IAIN Walisongo lokasinya berada di pojok lantai II per-pustakaan IAIN Walisongo yang di dalamnya berisi hampir 80% bermacam-macam buku berbahasa inggris, disediakan pula komputer untuk nge-browsing internet secara gratis, tersedia juga ProQuest, yaitu salah satu website yang digunakan untuk bertukar informasi dengan grup ProQuest Amerika.
Semua elemen yang berada dalam IAIN Walisongo seharusnya bangga akan adanya Amcor dan mampu memanfaatkan fasilitas yang tersedia disana secara optimal, akan tetapi hal ini berbeda dengan apa yang diungkapkan Abdul Hakim, salah satu pengurus Amcor “Sayangnya semua fasilitas yang telah tersedia di Amcor sangat jarang sekali dimanfaatkan oleh dosen dan mahasiswa IAIN sendiri,”. Padahal Amcor disediakan bukan hanya untuk orang-orang tertentu, akan tetapi oleh semua yang berada di IAIN Walisongo maupun yang disekitarnya. “malahan kebanyakan mahasiswa luar yang sering memanfatkan fasilitas yang ada di sini, seperti dari UNISSULA, UNDIP,” tambahnya sambil tersenyum.
Fasilitas yang tersedia jika dimanfaat-kan secara maksimal mampu memberi pengetahuan yang berguna, seperti salah satu anggota WEC (Walisongo English Club) yang mendapatkan beasiswa sekitar dua bulan yang lalu untuk study banding ke Negri Super Power, Amerika. Seluruh biaya baik transportasi maupun biaya hidup selama di sana didanai oleh Kedubes Amerika. Banyak pula mahasiswa dan dosen yang memanfaatkan Amcor sebagai batu loncatan untuk mendapatkan Beasiswa luar negri.
Djamaludin Malik S.Pdi. mantan ketua WEC sependapat pula dengan apa yang disampaikan Abdul Hakim, menyatakan bahwa “Tempat yang strategis ini percuma kalau dimanfaatkan beberapa orang atau beberapa organisasi saja dan semantara ini hanyalah WEC yang sering memakainya sebagai tempat seminar dan sebagainya, seperti dengan berdialog langsung dengan orang di luar Negri”
WEC salah satu dari sekian UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang sering memanfatkan fasilitas yang ada di Amcor dengan mengadakan seminar-seminar ataupun bedah buku, karena memang sangat menunjang sekali bagi WEC untuk pendalaman berbahasa inggris. Bahkan pengurus Amcor sendiri sering kali mengadakan seminar yang pembicaranya didatangkan langsung dari negri Paman Sam, hal ini pun kurang mendapatkan respon yang antusias dari mahasiswa dan dosen-dosen IAIN Walisongo sendiri.
Diharapkan semuanya mampu me-manfaatkan Amcor semaksimal mungkin tak hanya harus WEC maupun mahasiswa tadris bahasa Inggris, akan tetapi semuapun diharapkan merasa memiliki, karena Amcor milik kita semua. Siapa lagi kalau bukan kita yang menghidupkan Amcor. (Rofiq)
Selengkapnya...
[Edisi 3] Justisia Mesin Pencetak Intelektual
Dari tahunke tahun Lembaga Penerbitan Mahasiswa (LPM) Justisia selalu mencetak para intelektual muda. Sejak angkatan pertama tahun 1993 para intelek, misalnya Rumadi salah satu dosen UIN Jakarta, Arja Imroni dosen Ulumul Qur’an di IAIN Walisongo Semarang Fakulas Syari’ah, Imam Yahya dosen Kewarganegaraan IAIN Walisongo Semarang , Sumanto al Qurtubi salah satu mahasiswa doktoral University Boston AS, Tedi KH dosen Islam dan HAM di IAIN Walisongo Semarang, Iman Fadhilah dosen filsafat ilmu di IAIN Walisongo Semarang, dan masih banyak lagi yang belum di-cantumkan.
Periode 2008/2009 dua penghargaan berhasil digondol aktifis LPM justisia. Pada upacara wisuda semester genap 26 februari 2009 M. Najibur Rohman berhasil meraih skripsi awards. Selain mendapatkan penghargaan tersebut, Najib juga lulus dengan Indeks Prestasi yang bisa dibilang lumayan, yaitu 3,68. “Saya tidak punya waktu banyak untuk menggarap skripsi karena dikejar waktu dan sakit,” ujar lulusan 11 semester ini.
Sewaktu masih aktif kuliah M. Najibur Rohman termasuk penulis yang tergolong produktif. Banyak prestasi yang diraih misalnya juara 1 esai kepemimpinan pemuda 2006 yang diadakan oleh kemenpora RI, peraih artikel awards untuk penulis muda terproduktif dari Departemen Agama (Depag) 2006, dan pimpinan nasional anual conference 2006. Wisudawan yang akrab disapa najib ini tulisannya, baik resensi maupun artikel banyak dimuat surat kabar seperti Suara Merdeka, Tempo, Kompas, dan Wawasan.
Posisi terakhir di Justisia M. Najibur Rohman menjabat sebagai pimpinan redaksi jurnal Justisia mitos-mitos kenabian edisi 31. Selain aktif di Justisia pemuda kelahiran Rembang ini juga aktif di Lembaga Studi Agama (eLSA) sebagai redaktur. Di luar kampus dia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indoneia (PMII).
Prestasi yang kedua berhasil diraih M. Nasrudin dengan IPK tertinggi di Fakultas Syari’ah (3,88). Pemuda kelahiran Lampung ini menyelesaikan program S1 hanya 9 semester. Selain urusan akademik di Justisia posisi terakhir Nasrudin sebagai pimpinan redaksi jurnal edisi 33 Historio-grafi Tradisi Hukum Nusantara.
Selain aktif di intra kampus, Nasrudin-pun aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dalam lingkup ekstra kampus. Bujang pendiam ini banyak menyumbangkan pikiran dan tenaganya pada PMII. Diberbagai kegiatan PMII Komisariat maupun Rayon dia sering mengisi sebagai pembicara. Sehingga tidak heran kalau namanya terkenal di kalangan mahasiswa maupun dosen.
Dia juga aktif di Jaringan Islam Kampus (Jarik) sebagi sekretaris. Di Lembaga Study Agama (eLSA) posisi Nasrudin sebagai redaktur satu divisi dengan Najib.
Patut kita banggakan kedua wisudawan ini. Meskipun sibuk dengan berbagai kegiatan, mereka tidak melupakan tugas utamanya sebagai mahasiswa. Bahkan kedua wisudawan ini sanggup menyelesaikan skripsi dalam waktu singkat, hanya dua minggu.
Jangan pernah patah semangat. Senior kita sudah cukup membuktikan bahwa mahasiswa Fakultas Syari’ah berkualitas tinggi. Sudah saatnya kita membuktikan Sarjana Hukum Islam (S.Hi) mempunyai nilai plus. (Cep)
Selengkapnya...